Sabtu, 20 April 2013

PANDANGAN TERHADAP ALAM SEMESTA




Y. Setiyo Hadi

Alam semesta dinyatakan sebagai segala yang di sekitar manusia, sedangkan manusia sendiri merupakan bagian dari alam semesta. Pandanga ini memperlihatkan ada “alam yang dekat dengan manusia” (alam nyata) dan ada “alam yang jauh dari manusia” (alam ghaib).
Potensi alam semesta atau yang disebut sebagai sumber daya alam meliputi segala sesuatu yang ada di dalam alam semesta. Potensi ini bisa terdapat di mana saja, seperti dalam tanah, air, di angkasa, permukaan tanah, barang tambang, sinar matahari, tumbuhan, hewan, dan sebagainya. Inti dari sumber daya alam adalah segala sesuatu yang ada di alam ini, baik yang nyata maupun yang ghaib.
Alam semesta sebagai sumber daya memiliki dimensi sebagai berikut: kuantitas, kulaitas, waktu, dan ruang. Dengan melihat dimensi ada dua sudut pandang tentang alam, yaitu dalam sudut subyektif (dalam pandangan manusia) melihat alam memiliki keterbatasan karena keterbatasan dalam melakukan penyerapan serta penginderaan terhadap alam dan sudut obyektif (pandangan apa adanya) membuktikan bahwa alam tidak terbatas bahkan cenderung mengarah pada tidak terbatas (unlimited).
Sudut pandangan subyek ini yang menjadi berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi sepanjang sejarah umat manusia. Sudut pandang subyek berkaitan dengan upaya penginderaan dan identifikasi manusia terhadap diri dan lingkungan sekitarnya. Rasa ingin tahu (curiosity) dan pemenuhan kebutuhan manusia memiliki keterbatasan dalam mengedentifikasi keberadaan alam semesta.
Rasa ingin tahu yang bersatu dengan upaya pemenuhan kebutuhan hidup, manusia menjadi alam sebagai sumber energy dalam upaya pemenuhan kebutuhan keseharian. Rasa ingin tahu dan tidak puas menjadikan manusia berupaya terus mengetahui berbagai isi alam ini yang bermanfaat dan dapat dimanfaatkan manusia dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Alam yang diketahui, baik dengan bantuan ilmu dan teknologi, masihlah terbatas. Sedangkan masih banyak dan menjadi misterius bagian-bagian yang tersembunyi dalam alam. Alam yang diketahui dan menjadi manusia ini menjadi bagian dari pandangan subyektif  terhadap keberadaan alam sesungguhnya.
Sudut obyektif (pandangan apa adanya) membuktikan bahwa alam tidak terbatas bahkan cenderung mengarah pada tidak terbatas (unlimited). Di luar pengetahuan memori manusia, baik yang telah dilakukan dengan teknologi mutakhir yang canggih, masih banyak misteri alam yang tidak diketahui manusia.
Alam, secara obyektif, sangat luas dan belum diketahui batas nyata oleh ilmu pengetahuan dan teknologi manusia. Saking luas dan tidak terbatas alam, memperlihatkan pengetahuan manusia tentang alam semesta ini sangatlah sedikit. Sedangkan manusia sendiri di ala mini, tidak lebih besar dari sebutir pasir bila kita menyadari keluasan dari alam semesta.
200403

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar